Home » » Kisah Supir Taksi Berusia 83 Tahun

Kisah Supir Taksi Berusia 83 Tahun

Ditulis Oleh Beny Setiawan pada Rabu, 11 April 2012


Mbah Djariman Taxiku 02 460x306 Supir Taksi Berusia 83 Tahun

 Bisa Anda bayangkan jika Anda disupiri seorang kakek berusia 83 tahun. Mbah Djariman, yang berprofesi sebagai supir taksi setiap harinya berkendara dengan menempuh jarak sejauh 250 km.

mantan anggota Cakrabirawa, pengawal Bung Karno era 1962 -- 1965 ini menuturkan kisah sisa hidupnya  menjadi supir Taxiku. “Hidup adalah perjuangan, jujur dan rajin menjadi dasar hidup saya.” tutur Mbah Djariman.
Meski baru setahun menjadi supir taksi, namun kegigihannya dalam kehidupan ini patut dijadikan contoh. Setiap hari jam 8 pagi Mbah Djariman sudah keluar dari pool Taxiku di kawasan Serpong, Tangerang. Menelusuri jalan-jalan Jakarta untuk mengantarkan para penumpangnya ke tempat tujuan. Kemacetan lalulintas menjadi sarapan kakek dari 9 buyut ini.
Penampilannya yang sederhana dengan blangko menempel di kepala yang menutupi rambut putihnya, menunjukkan kepribadian seorang pensiunan Polisi Militer dengan pangkat terakhir Letnan Dua. Tutur bahasanya  yang sopan dan tegas membuat penumpang  merasa nyaman saat berada di dalam taksi yang dikendarainya. “Hampir semua penumpang menanyakan usia saya,” ungkap si Mbah.
Usia bukan menjadi halangan bagi Mbah Djariman untuk terus berjuang di kota besar seperti Jakarta ini. Saat zaman sebelum Indonesia merdeka, Djariman muda telah terbiasa berjuang melawan penjajah. Pengalamannya saat menjadi seorang tentara membuat dirinya tidak cepat menyerah saat memasuki usia senja. “Negara mendidik saya untuk berani mati dan tidak boleh menyerah.” tegasnya.
Mbah Djariman mengakui dari pada tidak ada kegiatan dan bengong-bengong di rumah lebih baik menjadi supir taksi. Pengalamannya mengendarai mobil sudah tidak diragukan lagi. Apalagi pengetahuannya dengan jalan-jalan tikus yang ada di Jakarta sudah di luar kepala. Saat mulai bekerja menjadi supir taksi pun, Mbah tidak perlu mengikuti tes lagi, langsung masuk dan membawa taksi.
Pertama kali mengendarai mobil pada tahun 1940, saat itu Mbah dipercaya Komandannya membawa “Gurga” model truk tempur dari Jepang. Kemudian mobil “GAZ Komando” dari Rusia, mobil tempur yang menjadi tanggung jawabnya di tahun 1960.
“Kalau sekarang lebih enak, dahulu mobil harus diengkol agar bisa jalan. kalau sekarang tinggal jos aja.” ungkap Djariman. Merek mobil seperti Impala, Holden, Moris, Jeep Willys dan Jeep Mambo menjadi teman setianya saat bertugas sebagai seorang prajurit.
Saat ini Mbah Djariman tinggal dengan cucu dan cicitnya di rumah dinas di Berlan, Ksatrian X, Matraman, Jakarta. Setiap hari si Mbah mengendari taksi hingga jam 12 malam atau sekitar 16 jam ia berkutat  di kemacetan Jakarta. Penghasilan yang ia dapat pun rata Rp 100 ribu/ hari. Ditambah uang pensiun dari Polisi Militer sebesar Rp 1,8 juta tiap bulannya.
Penghasilan yang ia dapatkan dari profesinya sebagai supir taksi, bukan menjadi tujuan utamanya. Perjuangan yang telah ia lalui sejak zaman Presiden Soekarno hingga Presiden ke-6 Indonesia, patut ditiru oleh setiap generasi muda bangsa ini.
“Dapat uang nggak dapet uang bagi saya biasa-biasa saja.” tutup kakek kelahiran 1928 sambil menghisap rokok kreteknya.

DiPosting Oleh : Beny Setiawan ~ Pakbendot.com

Artikel Kisah Supir Taksi Berusia 83 Tahun ini diposting oleh Beny Setiawan pada hari Rabu, 11 April 2012. Terimakasih atas kunjungan Anda, serta kesediaan Anda membaca artikel ini. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.Wassalam..

:: HOME::

Share this article :
Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Komentar dengan Baik Dan benar