Home » » Makalah Agama islam Tentang Ahlak

Makalah Agama islam Tentang Ahlak

Ditulis Oleh Beny Setiawan pada Selasa, 10 Juli 2012

KATA PENGANTAR
          Assalamualaikum Wr. Wb.
Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Rasulullah SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya saya mampu menyelesaikan tugas makalah ini guna memenuhi tugas Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam. Ucapan terima kasih juga saya ucapkan kepada Dosen Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam atas tugas yang telah diberikan sehingga menambah pemahaman saya tentang Akhlak dalam Makalah yang saya buat.
            Dalam penyusunan tugas atau materi ini tidak sedikit hambatan yang saya hadapi. Namun saya menyadari bahwa kelancaran dalam penulisan dan penyusunan makalah ini tidak lain berkat Allah SWT sehingga kendala-kendala yang saya hadapi dapat teratasi. Makalah ini disusun selain untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam juga disusun untuk memperluas ilmu tentang Akhlak dalam Agama Islam, yang saya dapatkan dari berbagai macam sumber informasi dan referensi.
            Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para Mahasiswa Universitas Gunadarma. Saya sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk itu kepada Dosen Mata Kuliah saya meminta masukannya demi perbaikan pembuatan makalah saya dimasa yang akan datang dan mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca.
            Wassalamualaikum Wr. Wb.
DAFTAR ISI
1.      Kata Pengantar...............................................................................................................2
2.      Daftar Isi........................................................................................................................3
3.      BAB I
·         Pendahuluan.............................................................................................................4
4.      BAB II
·         AKHLAK
1)      Pengertian Dan Ruang Lingkup Akhlak............................................................5
2)      Akhlak Kepada Allah.........................................................................................7
3)      Akhlak Terhadap Sesama Manusia....................................................................9
4)      Akhlak Terhadap Selain Manusia......................................................................9
5)      Perbandingan Ukuran Baik Buruk Dalam Akhlak Dengan Aliran Dalam Kehidupan Bersama.........................................................................................10
6)      Implementasikan Akhlak Dalam Kehidupan Bersama....................................11
5.      BAB III
·         Kesimpulan.............................................................................................................15
·         Daftar Pustaka........................................................................................................15
 
 BAB I
PENDAHULUAN
          Sebagaimana telah diketahui bahwa komponen utama Agama Islam adalah akidah, syari’ah dan akhlak. Penggolongan itu didasarkan pada penjelasan Nabi Muhammad kepada Malaikat Jibril di depan para sahabatnya mengenai arti Islam, Iman dan Ihsan yang ditanyakan Jibril kepada Beliau. Intinya hampir sama dengan isi yang dikandung oleh perkataan akidah, syari’ah dan akhlak. Perkataan ihsan diatas berasal dari kata ahsana-yuhsinu-ihsanan yang berarti berbuat baik.
            Di dalam Al-Qur’an terdapat kata ihsan yang artinya berbuat kebajikan atau kebaikan diantaranya terdapat pada surat an-Nahl (16) ayat 90 dan kebaikan terdapat pada surat ar-Rahman (55) ayat 60. Baik kebajikan atau kebaikan rapat hubungannya dengan akhlak.
Kata akhlaq yang kemudian dalam bahasa Indonesia menjadi akhlak berasal dari kata khilqun, yang mengandung segi-segi persesuaian kata khaliq dan makhluq. Dari sinilah asal perumusan ilmu akhlak yang merupakan koleksi ugeran yang memungkinkan timbulnya hubungan yang baik antara makhluk dan Khalik serta antara makhluk dan makhluk lainnya.
Akhlak menempati posisi yang sangat penting dalam Islam. Ia dengan takwa, yang akan dibicarakan nanti, merupakan ‘buah’ pohon Islam yang berakar akidah, bercabang dan berdaun syari’ah. Pentingnya kedudukan akhlak, dapat dilihat dari berbagai sunnah qauliyah (sunnah dalam bentuk perkataan) Rasulullah. Diantaranya adalah :
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak” (HR. Ahmad)
“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya” (H.R. Tarmizi)
Dan, akhlak Nabi Muhammad yang diutus menyempurnakan akhlak manusia itu disebut akhlak Islam atau akhlak Islami, karena bersumber dari wahtu Allah yang kini terdapat dari Al-Qur’an yang menjadi sumber utama agama dan ajaran Islam. Dikalangan umat Islam masalah yang penting ini sering kurang digambarkan secara baik dan benar kalau dibandingkan dengan penggambaran tentant syari’at, terutama yang berhubungan dengan shalat, sehingga akibatnya karena tidak mengenal butir-butir akhlak agama Islam, dalam praktek, tingkah laku kebanyakan orang Islam tidak sesuain dengan akhlak Islami yang disebut di dalam Al-Qur’an dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad dalam kehidupan beliau sehari-hari.
BAB II
AKHLAK
1. PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP AKHLAK
Menurut definisi yang dikemukakan oleh Al-Ghazali, akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa (manusia) yang dapat melahirkan suatu perbuatan yang mudah dilakukan tanpa terlalu banyak pertimbangan dan pemikiran yang lama. “Maka jika sifat tersebut melahirkan suatu perbuatan atau tindakan yang terpuji maka ketentuan akal dan norma agama dinamakan akhlak yang baik. Tetapi manakala ia melahirkan perbuatan yang jahat maka dinamakan akhlak yang buruk.” (Mahyudin; 1991:5)
Kata dalam bahasa Indonesia yang lebih mendekati maknanya dengan akhlak adalah budi pekerti. Baik budi pekerti maupun akhlak mengandung makna yang ideal, tergantung pada pelaksanaan atau penerapannya melalui tingkah laku yang mungkin positif, mungkin negatif, mungkin baik,  mungkin buruk. Yang termasuk kedalam pengertian positif adalah segala tingkah laku, tabiat, watak dan perangai yang sifatnya benar, amanah, sabar, pemaaf, rendah hati dan lain-lain sifat yang baik. Sedangkan yang termasuk pengertian akhlak atau budi pekerti yang buruk adalah semua tingkah laku, perangai, watak sombong, dendam, dengki, khianat, dan lain-lain sifat yang buruk. Yang menentukan apakah suatu perbuatan itu baik atau buruk adalah nilai dan norma agama, dan katakan bahwa al-Haq datangnya dari Tuhan-mu.
Suatu perbuatan baru dapat disebut sebagai cerminan akhlak, jika memenuhi syarat sebagai berikut :
1.      Dilakukan berulang-ulang sehingga hampir menjadi suatu kebiasaan.
2.      Timbul dengan sendirinya, tanpa pertimbangan yang lama dan pikir-pikir terlebih dahulu
            Suri tauladan yang diberikan Rasulullah selama hidup beliau merupakan contoh akhlak yang tercantum dalam Al-Qur’an. Butir-butir akhlak yang baik yang disebut dalam berbagai ayat yang tersebar didalam Al-Qur’an terdapat juga dalam Al-Hadits yang memuat perkataan, tindakan dan sikap diam Nabi Muhammad selama kerasulan beliau 13 tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madinah. Menurut Siti Aisyah (salah satu isteri Rasulullah), yang banyak sekali meriwayatkan sunnah Rasulullah, akhlak Nabi Muhammad adalah (seluruh) isi Al-Qur’an. Dan didalam Al-Qur’an pun Rasulullah dipuji oleh Allah dengan Firman-Nya :
“Dan engkau Muhammad, sungguh memiliki akhlak yang agung.” (QS. Al-Qalam:4)
            Umat Islam seharusnya bersyukur karena Allah telah mengutus seorang insan kamil (manusia sempurna) kedunia ini untuk diteladani. Sayang sekali, manusia yang sesungguhnya wajib menjadi idola kaum muslimin dan muslimat itu (seperti) kurang dikenal oleh ummat Islam sendiri karena tidak mempelajari sejarah hidup Rasulullah secara sistematis dan benar.
            Dahulu juga sekarang pada bulan Rabi’ul awal diadakan hari lahir Nabi Muhammad yang disebut Maulid Nabi tidak lagi dibarengi hidangan yang enak-enak, tetapi dengan acara khusus menjelaskan riwayat hidup Nabi Muhammad dalam berbagai aspeknya, terutama aspek akhlak yang seyogyanya diteladani oleh umat Islam baik dia muslim maupun muslimat. Dimasa lampau peringatan maulid Nabi Muhammad yang semula dimaksud untuk menghormati dan mencontoh akhlaknya dilakukan kampung-kampung dengan suatu upacara khusus yang diakhiri dengan makan bersama menikmati makanan sumbangan masyarakat bersangkutan ditempat.
            Dahulu peringatan maulid Nabi Muhammad diselenggarakan dengan membaca kitab berzanji yang ditulis dalam bahasa Arab yang tidak diketahui artinya oleh pendengar. Oleh karena keadaannya demikian, pada suatu ketika, pernah, perayaan maulid Nabi Muhammad dinyatakan tidak ada gunanya diselenggarakan. Sebabnya adalah karena akhlak Rasulullah mengenai berbagai bidang hidup dan kehidupan manusia, tidak ditampilkan dalam acara tersebut. Sesungguhnya peringatan maulid Nabi Muhammad baik diadakan asal dalam setiap upacara ditampilkan sekurang-kurangnya secara umum akhlak beliau yang perlu dicontoh dan diteladani umat manusia.
            Akhlak adalah sikap yang melahirkan perbuatan dan tingkah laku manusia. Karena itu selain dengan akidah, akhlak tidak dapat dipisahkan dengan syari’ah. Syari’ah mempunyai lima kategori penilaian tentang perbuatan dan tingkah laku manusia yang disebut al-ahkam al-khamsah. Kategori penilaian itu tidak hanya wajib dan haram tetapi juga sunnat, makruh dan mubah serta ja’iz. Wajib dan haram termasuk kategori hukum (duniawi) terutama, sedangkan sunnat, makruh, dan mubah termasuk dalam kategori kesusilaan atau akhlak. Sunnat dan makruh termasuk ke dalam kategori kesusilaan umum atau kesusilaan masyarakat sedang mubah atau ja’iz termasuk dalam kategori kesusilaan atau akhlak pribadi. Ini sangat terlihat jika dihubungkan dengan dengan ihsan dalam melakukan ibadah. Ihsan dalam beribadah adalah melakukan shalat, misalnya dengan baik dan buruk (sungguh-sungguh, penuh penyerahan dan kebulatan hati dengan kerendahan hati) seolah-olah yang melakukan shalat itu sedang melihat atau berhadapan lanngsung dengan Allah. Kalau tidak dapat membayangkan melihat Allah, kata Hadits Nabi yang berasal dari Umar bin Khattab itu, sekurang-kurangnya yang bersangkutan merasakan Allah melihat dia.
            Karena syari’ah atau hukum Islam mencakup segenap aktivitas manusia, maka ruang lingkup akhlak pun dalam Islam meliputi semua aktivitas manusia dalam segala bidang hidup dan kehidupan. Dalam garis besarnya akhlak dibagi menjadi dua, pertama adalah akhlak terhadap Allah atau Khalik (Pencipta), dan yang kedua adalah akhlak terhadap makhluk (semua cipttaan Allah). Akhlak terhadap Allah dijelaskan dan dikembangkan oleh ilmu Tasawuf dan tarikat-tarikat, sedangkan akhlak terhadap makhluk dijelaskan oleh ilmu akhlak. Ilmu akhlak dilihat dari sudut etimologi ialah upaya untuk mengenal budi pkerti, tingkah laku, atau tabi’at seseorang sesuai dengan sensasinya. Dipandang dari terminologi ilmu akhlak adalah ilmu yang menentukan batas baik dan buruk, antara yang terpuji dan yang tercela tentang perkataan dan perbuatan manusia lahir dan batin (Asmaran AS,1994 : 4,5).
Akhlak terhadap makhluk dapat dibagi menjadi dua, yaitu :
1.      Akhlak terhadap manusia,
2.      Akhlak terhadap bukan manusia.
Akhlak terhadap manusia dapat dibagi lagi menjadi, akhlak terhadap diri sendiri dan akhlak terhadap orang lain, misalnya akhlal terhadap Rasulullah, akhlak terhadap orang tua, akhlak karib terhadap kerabat, akhlak terhadap tetangga, dan akhlak terhadap masyarakat. Sedangkan akhlak terhadap bukan manusia juga dapat dibagi menjadi, akhlak terhadap makhluk hidup bukan manusia, misalnya akhlak terhadap tumbuh-tumbuhan (flora) dan hewan (fauna), dan akhlak terhadap makhluk (mati) bukan manusia, misalnya akhlak terhadap tanah, air, udara dan sebagainya. Akhlak terhadap manusia dan bukan manusia kini disebut akhlak terhadap lingkungan hidup. Masing-masing akhlak ini akan dijelaskan pada penjelasan berikutnya dibawah.
2. AKHLAK KEPADA ALLAH
            Akhlak kepada Allah dapat diartikan sebagai sikap atau perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai makhluk kepada Tuhan sebagai Khalik. Sikap atau perbuatan itu memiliki ciri-ciri perbuatan akhlak sebagaimana telah disebut diatas. Sekurang-kurangnya ada empat alasan mengapa manusia perlu beakhlak kepada Allah.
Pertama, karena Allah-lah yang mencipatakan manusia. Dia yang menciptakan manusia dari air yang ditumpahkan keluar dari tulang punggung dan tulang rusuk hal ini sebagaimana di firmankan oleh Allah dalam surat at-Thariq ayat 5-7 yang artinya sebagai berikut :
“(5) Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan?, (6) Dia tercipta dari air yang terpancar. (7) yang terpancar dari tulang sulbi dan tulang dada.” (at-Thariq : 5-7)
Kedua, karena Allah-lah yang telah memberikan perlengkapan panca indera, berupa pendengaran, penglihatan, akal pikiran dan hati sanubari, disamping anggota badan yang kokoh dan sempurna kepada manusia. Firman Allah dalam surat, an-Nahl ayat 78 yang artinya adalah :
“Dan Allah telah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kamu bersyukur”. ( Q.S an-Nahal : 78)
Ketiga, karena Allah-lah yang telah menyediakan berbagai bahan dan sarana yang diperlukan bagi kelangsungan hidup manusia, seperti bahan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, air, udara, binatang ternak dan lainnya. Firman Allah dalam surat al-Jatsiyah ayat 12-13 yang memiliki arti sebagai berikut :
"(12) Allah-lah yang menundukkan lautan untuk kamu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya, supaya kamu dapat mencari sebagian dari karunia-Nya dan mudah-mudahan kamu bersyukur. (13) Dan Dia menundukkan untuk kamu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari pada Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kamu yang berpikir.” (Q.S al-Jatsiyah : 12-13 )
Keempat, Allah-lah yang telah memuliakan manusia dengan diberikannya kemampuan, daratan dan lautan. Firman Allah dalam surat Al-Israa' ayat, 70 yang memiliki arti, yaitu :

"Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak cucu Adam, Kami angkut mereka dari daratan dan lautan, Kami beri mereka dari rizki yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (Q.S al-Israa : 70)
            Sementara itu menurut pendapat Quraish Shihab bahwa titik tolak akhlak kepada Allah adalah pengakuan dan kesadaran bahwa tiada Tuhan selain Allah. Dia memiliki sifat-sifat terpuji, demikian agung sifat itu, jangankan manusia malaikat pun tidak akan mampu menjangkaunya.
            Sedangkan menurut Kahar Masyhur dalam bukunya yang berjudul “Memnina Moral dan Akhlak” bahwa akhlak terhadap Allah itu antara lain :
1.      Cinta dan ikhlas kepada Allah SWT.
2.      Berbaik sangka kepada Allah SWT.
3.      Rela terhadap kadar dan qada (takdir baik dan buruk) dari Allah SWT.
4.      Bersyukur atas nikmat Allah SWT.
5.      Bertawakal / berserah diri kepada Allah SWT.
6.      Senantiasa mengingat Allah SWT.
7.      Memikirkan keindahan ciptaan Allah SWT.
8.      Melaksanakan apa yang diperintahkan dan dilarang Allah SWT.
Dari uraian-uraian diatas dapat dipahami bahwa akhlak terhadap Allah SWT, yaitu bahwa manusia seharusnya selalu mengabdikan diri hanya kepada-Nya sematadengan penuh keikhlasan dan bersyukur kepada-Nya, sehingga ibadah yang dilakukan ditunjukkan untuk memperoleh keridhaan-Nya. Dalam melaksanakan kewajiban yang diperintahkan oleh Allah, terutama melaksanakan ibadah-ibadah pokok, seperti shalat, zakat, puasa, haji, haruslah menjaga kebersihan badan dan pakaian, lahir dan batin dengan penuh keikhlasan. Tentu yang tersebut bersumber kepada Al-Qur’an yang harus dipelajari dan dipelihara kemurniannyadan pelestariannya oleh umat Islam.
 3. AKHLAK TERHADAP SESAMA MANUSIA
Banyak sekali rincian yang dikemukakan Al-Qur'an berkaitan dengan perlakuan sesama manusia. Petunjuk dalam hal ini bukan hanya dalam bentuk larangan melakukan hal-hal negative seperti membunuh, menyakiti badan, atau mengambil harta tanpa alasan yang benar, tetapi juga sampai kepada menyakiti hati dengan cara menceritakan aib sesorang dibelakangnya, tidak perduli aib itu benar atau salah. Dalam hal ini Allah berfiman dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 263 yang artinya sebagai berikut:
"Perkataan yang baik dan pemberian ma'af, lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan penerimanya), Allah Maha Kaya Lagi Maha Penyantun.” (al-Baqarah :263)
            Di sisi lain Al-Qur'an menekankan bahwa setiap orang hendaknya didudukan secara wajar. Tidak masuk kerumah orang lain tanpa izin, jika bertemu saling mengucapkan salam, dan ucapan yang dikeluarkan adalah ucapan yang baik, hal ini dijelaskan dalam surat an-Nur ayat 24 yang dapat diartikan sebagai berikut :
"Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjaka”. (An-Nur : 24)
4. AKHLAK TERHADAP SELAIN MANUSIA
            Yang dimaksud dengan lingkungan adalah segala sesuatu yang disekitar manusia, baik binatang, tumbuh-tumbuhan maupun benda-benda yang tidak bernyawa.
            Pada dasarnya akhlak yang diajarkan al-Qur'an terhadap lingkungan bersumber dari fungsi manusia sebagai khalifah. Kekhalifahan menuntut adanya interaksi antara manusia dengan sesamanya dan manusia terhadap alam. Kekhalifahan mengandung arti pengayoman, pemeliharaan, serta bimbingan, agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptaanya.
Dalam pandangan Islam, seseorang tidak dibenarkan mengambil buah sebelum matang, atau memetik bunga sebelum mekar, karena hal ini berarti tidak memberi kesempatan kepada makhluk untuk mencapai tujuan penciptaannya. Ini berarti manusia dituntut mampu menghormati proses yang sedang berjalan, dan terhadap proses yang sedang terjadi. Yang demikian mengantarkan manusia bertangung jawab, sehingga ia tidak melakukan perusakan terhadap lingkungan harus dinilai sebagai perusakan pada diri manusia itu sendiri. Binatang, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda tak bernyawa semuanya di ciptakan oleh Allah SWT, dan menjadi milik-Nya, serta kesemuanya memiliki ketergantungan kepada-Nya. Keyakinan ini mengantarkan seorang muslim untuk menyadari bahwa semunya adalah "umat" Tuhan yang harus diperlakukan secara wajar dan baik.
5. PERBANDINGAN UKURAN BAIK BURUK DALAM AKHLAK DENGAN ALIRAN DALAM KEHIDUPAN BERSAMA
Perkataan akhlak sering juga disamakan dengan kesusilaan atau sopan santun. Bahkan, supaya kedengarannya lebih modern dan mendunia, perkataan akhlak kini sering diganti dengan kata moral atau etika.
Moral berasal dari Bahasa Latin yakni Mores, jamak kata mos yang berarti adat kebiasaan. Dalam Kamus Bahasa Indonesia, moral artinya ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, budi pekerti dan akhlak. Moral adalah istilah yang digunakan untuk menentukan batas-batas suatu sifat, perangai, kehendak, pendapat atau perbuatan yang layak dikatakan benar, salah, baik dan buruk. Dimasukkannya penilaian benar atau salah ke dalam moral, jelas menunjukkan salah satu perbedaan antara moral dengan akhlak, sebab benar salah adalah penilaian di pandang dari sudut hukum yang di dalam agama Islam tidak dapat dicerai pisahkan dengan akhlak.
Etika berasal dari Bahasa Yunani yakni Ethos, yang berarti kebiasaan. Yang dimaksud adalah kebiasaan baik atau kebiasaan buruk. Umumnya, kata etika diartikan sebagai ilmu. Makna etika dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral atau akhlak. Di dalam Ensiklopedi Pendidikan, diterangkan bahwa etika adalah filsafat tentang nilai, kesusilaan tentang baik dan buruk. Kecuali mempelajari nilai-nilai, etika merupakan pengetahuan tentang nilai-nilai itu sendiri.
Sebagai cabang filsafat yang mempelajari tingkah laku manusia untuk menentukan nilai perbuatan baik atau buruk, ukuran yang dipergunakannya adalah akal pikiran. Akallah yang menentukan apakah perbuatan manusia itu baik atau buruk. Kalau moral dan etika diperbandingkan, maka moral lebih bersifat praktis, sedangkan etika bersifat teoritis. Moral bersifat lokal, sedangkan etika bersifat umum (regional).
Akhlak Islami berbeda dengan moral dan etika. Perbedaannya dapat dilihat terutama dari sumber yang menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Yang baik menurut akhlak adalah segala sesuatu yang berguna, yang sesuai dengan nilai dan norma agama; nilai dan norma yang terdapat dalam masyarakat, bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Yang buruk adalah segala sesuatu yang tidak berguna, tidak sesuai dengan nilai dan norma agama serta nilai dan norma masyarakat, merugikan masyarakat dan diri sendiri. Yang menentukan baik dan buruk suatu sikap yang melahirkan perilaku atau perbuatan manusia, di dalam agama dan ajaran Islam adalah Al-Qur’an yang dijelaskan dan dikembangkan oleh Rasulullah SAW. dengan sunnah beliau yang kini dapat dibaca dalam kitab-kitab hadits.
Yang menentukan perbuatan baik atau buruk dalam moral dan etika adalah adat istiadat dan pikiran manusia dalam masyarakat pada suatu tempat di suatu masa. Di pandang dari sumbernya, akhlak Islami bersifat tetap dan berlaku untuk selama-lamanya, sedangkan moral dan etika berlaku selama masa tertentu di suatu tempat tertentu. Konsekuensinya, akhlak Islami bersifat mutlak, sedangkan moral dan etika bersifat relatif (nisbi).
6. IMPLEMENTASIKAN AKHLAK DALAM KEHIDUPAN BERSAMA
Butir-butir akhlak di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits bertebaran laksana gugusan bintang-bintang di langit. Selain satu butir dapat dilihat dari berbagai segi, juga mempunyai kaitan bahkan persamaan dengan taqwa. Karena itu hanya dicantumkan beberapa saja sebagai contoh, diantaranya adalah :
1.      Akhlak terhadap Allah SWT, antara lain :
a.       Al-Hubb, yaitu mencintai Allah SWT melebihi cinta kepada apa dan siapapun juga dengan mempergunakan firman-Nya dalam Al-Qur’an sebagai pedoman hidup dan kehidupan. Kecintaan kita kepada Allah SWT diwujudkan dengan cara melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
b.      Al-Raja, yaitu mengharapkan karunia dan berusaha memperoleh keridhaan Allah SWT.
c.       As-Syukr, yaitu mensyukuri nikmat dan karunia Allah SWT.
d.      Qana’ah, yaitu menerima dengan ikhlas semua qadha dan qadhar Allah SWT setelah berihktiar maksimal (sebanyak-banyaknya hingga batas tertinggi).
e.       Memohon ampun hanya kepada Allah SWT.
f.       At-Taubat, yaitu bertaubat hanya kepada Allah SWT. Taubat yang paling tinggi adalah taubat nasuha yaitu taubat benar-benar taubat, tidak lagi melakukan perbuatan sama yang dilarang Allah SWT dan dengan tertib melaksanakan semua perintah dan menjauhi segala larangan-Nya.
g.      Tawakal, yaitu berserah diri kepada Allah SWT.
2.   Akhlak terhadap makhluk dibagi menjadi dua yaitu :
a.       Akhlak terhadap manusia, diantaranya :
1)      Akhlak terhadap Rasulullah (Nabi Muhammad), antara lain :
·         Mencintai Rasulullah secara tulus dengan mengikuti semua sunnahnya.
·         Menjadikan Rasulullah sebagai idola, suri tauladan dalam hidup dan kehidupan.
·         Menjalankan apa yang diperintah-Nya, tidak melakukan apa yang dilarang-Nya.
2)      Akhlak terhadap orang tua (birrul walidaini), antara lain :
·         Mencintai mereka melebihi cinta kepada kerabat lainnya.
·         Merendahkan diri kepada keduanya diiringi perasaan kasih sayang.
·         Berkomunikasi dengan orang tua dengan khidmat, mempergunakan kata-kata lemah lembut.
·         Berbuat baik kepada ibu-bapak dengan sebaik-baiknya, dengan mengikuti nasihat baiknya, tidak menyinggung perasaan dan menyakiti hatinya, membuat ibu-bapak ridha.
·         Mendo’akan keselamatan dan keampunan bagi mereka kendati pun seorang atau kedua-duanya telah meninggal dunia.
3)      Akhlak terhadap diri sendiri, antara lain :
·         Memelihara kesucian diri.
·         Menutup aurat (bagian tubuh yang tidak boleh kelihatan menurut hukum dan akhlak Islam).
·         Jujur dalam perkataan dan berbuat ikhlas dan rendah hati.
·         Malu melakukan perbuatan jahat.
·         Menjauhi dengki dan menjauhi dendam.
·         Berlaku adil terhadap diri sendiri dan orang lain.
·         Menjauhi segala perkataan dan perbuatan sia-sia.
4)      Akhlak terhadap keluarga, karib kerabat, antara lain :
·         Saling membina rasa cinta dan kasih sayang dalam kehidupan keluarga.
·         Saling menunaikan kewajiban untuk memperoleh hak.
·         Berbakti kepada ibu-bapak.
·         Mendidik anak-anak dengan kasih sayang.
·         Memelihara hubungan silahturrahim dan melanjutkan silaturrahmi yang dibina orang tua yang telah meninggal dunia.
5)      Akhlak terhadap tetangga, antara lain :
·         Saling mengunjungi.
·         Saling bantu diwaktu senang lebih-lebih tatkala susah.
·         Saling beri-memberi, saling hormat-menghormati.
·         Saling menghindari pertengkaran dan permusuhan.
6)      Akhlak terhadap masyarakat, antara lain :
·         Memuliakan tamu.
·         Menghormati nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat bersangkutan.
·         Saling menolong dalam melakukan kebajikan dan takwa.
·         Menganjurkan anggota masyarakat termasuk diri sendiri berbuat baik dan mencegah diri sendiri dan orang lain melakukan perbuatan jahat (mungkar).
·         Memberi makan fakir miskin dan berusaha melapangkan hidup dan kehidupannya.
·         Bermusyawarah dalam segala urusan mengenai kepentingan bersama.
·         Mentaati keputusan yang telah diambil.
·         Menunaikan amanah dengan jalan melaksanakan kepercayaan yang diberikan seseorang atau masyarakat kepada kita.
·         Menepati janji.
b.      Akhlak terhadap bukan manusia (lingkungan hidup) antara lain :
1)      Sadar dan memelihara lingkungan hidup.
2)      Menjaga dan memanfaatkan alam terutama hewani dan nabati, fauna dan flora (hewan dan tumbuh-tumbuhan) yang sengaja diciptakan Tuhan untuk kepentingan manusia dan makhluk lainnya.
3)      Sayang kepada sesama makhluk. (Mohammad Daud Ali; 1997:458).
Butir-butir diatas merupakan akhlak yang baik. Ulama akhlak menyatakan bahwa akhlak yang baik merupakan sifat para Nabi dan orang-orang shiddiq. Sedangkan akhlak yang buruk merupakan sifat syaitan dan orang-orang tercela. Dengan demikian akhlak terbagi menjadi dua jenis, yaitu :
1.      Akhlak baik atau terpuji (Akhlaqul Mahmudah), yakni perbuatan baik terhadap Tuhan (al-Khaliq), terhadap sesama manusia dan makhluk lainnya.
2.      Akhlak yang tercela (Akhlaqul Madzmumah), yakni perbuatan buruk terhadap Tuhan (al-Khaliq), perbuatan buruk dengan sesama manusia dan makhluk yang lainnya.
Berikut akan diuraikan secara singkat mengenai akhlak yang buruk :
1.      Akhlak buruk terhadap Allah, antara lain :
a.       Takkabur (Al-Kibru), yaitu sikap yang menyombongkan diri, sehingga tidak mau mengakui kekuasaan Allah di alam ini, termasuk mengingkari nikmat Allah yang ada padanya.
b.      Musyrik (Al-Syirk), yaitu sikap yang mempersekutukan Allah dengan makhluk-Nya, dengan cara menganggapnya bahwa ada suatu makhluk yang menyamai kekuasaan-Nya.
c.       Murtad (Ar-Riddah), yaitu sikap yang meninggalkan atau keluar dari Agama Islam, untuk menjadi kafir.
d.      Munafiq (An-Nifaaq), yaitu suatu sikap yang menampilkan dirinya bertentangan dengan kemauan hatinya dalam kehidupan beragama.
e.       Riya’ (Ar-Riyaa’), yaitu suatu sikap yang selalu menunjuk-nunjukkan perbuatan baik yang dilakukannya. Maka ia berbuat bukan karena Allah melainkan hanya ingin dipuji oleh sesama manusia. Jadi perbuatan ini adalah kebalikan dari sikap ikhlas.
f.       Boros atau berfoya-foya (Al-Israaf), yaitu perbuatan yang selalu melampaui batas-batas ketentuan agama. Tuhan melarang bersikap boros, karena hal itu dapat melakukan dosa terhadap-nya, merusak perekonomian manusia, merusak hubungan sosial, serta merusak diri sendiri.
g.      Rakus atau Tamak (Al-Hirshu atau Ath-Thama’u), yaitu suatu sikap yang tidak pernah merasa cukup, sehingga selalu ingin menambah apa yang seharusnya ia miliki tanpa memperhatikan hak-hak orang lain. Hal ini termasuk kebalikan dari rasa cukup (Al-Qanaa’ah) dan merupaka akhlak buruk Allah karena melanggar ketentuan larangna-Nya.
2.      Akhlak buruk terhadap manusia, antara lain :
a.       Mudah Marah (Al-Ghadhab), yaitu kondisi emosi seseorang yang tidak dapat ditahan oleh kesadarannya, sehingga menonjolkan sikap dan prilaku yang tidak menyenangkan orang lain .
b.      Iri-hati atau Dengki (Al-Hasadu atau Al-Hiqdu), yaitu sikap kejiwaan seseorang yang selalu menginginkan agar kenikmatan dan kebahagiaan hidup orang lain bisa hilang sama sekali.
c.       Mengadu-adu (An-Namiimah), yaitu perilaku yang suka memindahkan perkataan seseorang kepada orang lain, dengan maksud agar hubungan sosial keduanya rusak.
d.      Mengumpat (Al-Ghiibah), yaitu suatu perilaku yang suka membicarakan keburukan seseorang kepada orang lain.
e.       Bersikap Congkak (Al-Ash’aru), yaitu sikap dan prilaku yang menampilkan kesombongan, baik dilihat dari tingkah lakunya maupun perkataannya.
f.       Sikap Kikir (Al-Bukhlu), yaitu suatu sikap yang tidak mau memberikan nilai materi dan jasa kepada orang lain.
g.      Berbuat Aniaya (Azh-Zhulmu), yaitu suatu perbuatan yang merugikan orang lain, baik kerugian matriil maupun non-matriil. Dan ada juga yang mengatakan bahwa seseorang yang mengambil hak-hak orang lain termasuk perbuatan dzalim (menganiaya). (Mahyuddin; 1991:26-32)
Penggolongan sikap manusia dalam butir-butir akhlak tersebut sebenarnya merupakan sebagian aplikasi dari kata taqwa, yaitu melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
 
BAB III
KESIMPULAN
            Kata akhlak berasal dari kata khilqun, yang mengandung segi-segi persesuaian kata khaliq dan makhluq. Dalam Bahasa Indonesia yang lebih mendekati maknanya dengan akhlak adalah budi pekerti. Baik budi pekerti maupun akhlak mengandung makna yang ideal, tergantung pada pelaksanaan atau penerapannya melalui tingkah laku yang mungkin positif atau baik, seperti amanah, sabar, pemaaf, rendah hati dll. Dan mungkin negatif atau buruk, seperti sombong, dendam, dengki, hianat dll.
Akhlak adalah kelakuan yang timbul dari hasil perpaduan antara hati nurani, pikiran, perasaan, bawaan dan kebiasaan yang menyatu, membentuk suatu kesatuan tindak lanjut yang dihayati dalam kenyataan hidup sehari-hari. Dari kelakuan itu lahirlah perasaan moral (moralsence) yang terdapat di dalam diri manusia sebagai fitrah, sehingga ia mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Menurut definisi yang dikemukakan oleh Imam Al-Ghazali, akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa (manusia) yang dapat melahirkan suatu perbuatan yang mudah dilakukan, tanpa terlalu banyak pertimbangan dan pemikiran yang lama.
Akhlak secara garis besar dibagi menjadi 2 yaitu :
1.      Akhlak terhadap Allah SWT.
2.      Akhlak terhadap makhluk (semua ciptaan Allah SWT).
DAFTAR PUSTAKA
-          http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/agama_islam/bab5-akhlak.pdf
-          http://ocw.gunadarma.ac.id/course/psychology/study-program-of-psychology-s1/pendidikan-agama-islam/ahklak
-          http://id.shvoong.com/books/guidance-self-improvement/1973692-akhlak-terhadap-allah-swt/
-          http://id.shvoong.com/books/guidance-self-improvement/1973693-akhlak-terhadap-sesama-manusia-dan/

DiPosting Oleh : Beny Setiawan ~ Pakbendot.com

Artikel Makalah Agama islam Tentang Ahlak ini diposting oleh Beny Setiawan pada hari Selasa, 10 Juli 2012. Terimakasih atas kunjungan Anda, serta kesediaan Anda membaca artikel ini. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.Wassalam..

:: HOME::

Share this article :

2 komentar:

  1. Saya suka blog Anda, saya berharap untuk melihat lebih banyak dari Anda. Apakah Anda menjalankan situs lain?

    BalasHapus

Silahkan Komentar dengan Baik Dan benar