Home » » Manajemen Pers Dalam Dakwah

Manajemen Pers Dalam Dakwah

Ditulis Oleh Beny Setiawan pada Kamis, 05 Juli 2012


Manajemen (management) secara harfiyah artinya mengatur atau mengelola. Encyclopedia Americana mengartikan manajemen sebagai“The art of coordinating the elements of factors of production towards the achievement of the purposes of an organization“. Pencapaian sasaran organisasi terjadi melalui peng-gunaan manusia (men), bahan produksi (materials), dan mesin (machines). Hakikat manajemen adalah “proses koordinasi berbagai sumberdaya” organisasi (men, materials, machines) dalam upaya mencapai sasaran organisasi. Pers adalah lembaga penerbitan media massa cetak, seperti suratkabar, tabloid, majalah, dan buku. Dalam bahasa Inggris, pers (press) berarti mesin pencetak, mencetak, orang-orang yang terlibat dalam kepenulisan atau produksi berita, menekan, dan sebagainya.
Dalam Leksikon Komunikasi, pers punya banyak arti, seperti usaha percetakan atau penerbitan; usaha pengumpulan atau penyiaran berita; penyiaran berita melaui media massa; dan orang-orang yang bergerak dalam penyiaran berita. Ada pula pendapat, pers merupakan singkatan dari persuratkabaran.
Manajemen pers adalah proses pengelolaan berupa koordinasi unsur-unsur terkait dalam penerbitan pers (media massa, utamanya media cetak). Pembahasan manajemen pers di bawah ini mengacu pada konsep fungsi manajemen dari Henry Fayol, yaitu Planning, Organizing, Acting, dan Controlling (POAC).
Dakwah adalah kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah Subhaanahu wa taala sesuai dengan garis aqidah, syariat dan akhlak Islam. Kata dakwah merupakan masdar (kata benda) dari kata kerja da’a yad’u yang berarti panggilan, seruan atau ajakan.
Tujuan utama dakwah ialah mewujudkan kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat yang diridai oleh Allah. Nabi Muhammad SAW mencontohkan dakwah kepada umatnya dengan berbagai cara melalui lisan, tulisan dan perbuatan. Dimulai dari istrinya, keluarganya, dan teman-teman karibnya hingga raja-raja yang berkuasa pada saat itu. Di antara raja-raja yang mendapat surat atau risalah Nabi SAW adalah kaisar Heraklius dari Byzantium, Mukaukis dari Mesir, Kisra dari Persia (Iran) dan Raja Najasyi dari Habasyah (Ethiopia).
Memasuki zaman global seperti saat sekarang ini, pola dakwah bit at-Tadwin (dakwah melalui tulisan) baik dengan menerbitkan kitab-kitab, buku, majalah, internet, koran, dan tulisan-tulisan yang mengandung pesan dakwah sangat penting dan efektif.
Keuntungan lain dari dakwah model ini tidak menjadi musnah meskipun sang dai, atau penulisnya sudah wafat. Menyangkut dakwah bit-Tadwim ini Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya tinta para ulama adalah lebih baik dari darahnya para syuhada”.
Prinsip manjemen pers dakwah
  1. Proses kerjanya mengarah pada pencapain tujuan dakwah . adapun tujuan dakwah yang di maksud adalah mengajak manusia berjalan di atas jalan Allah SWT , mengambil ajaran Allah menjadi jalan hidupnya . artinya tujuan dakwah tersebut merupakan tujuan dakwah islamiyah dengan cara membentangkan jalan Allah di atas bumi agar di lalui umat manusia .
  1. Metode yang di gunakan dalam upaya mencapai tujuan dakwah yang di maksud adalah JURNALISTIK . Dalam mencapai tujuan tujuan akhir dari dakwah yang di maksud sudah tentu tidak bisa di lakukan sekaligus , melainkan harus melalui tahapan – tahapan  tertentu sesuia dengan waktu dan situasi serta kondisi khalayak ( mad’u ) yang di dakwahinya .
  1. Sesuai dengan inti dari manajemen yaitu organisasi , maka pelaku pencapai tujuan dakwah dalam MPD pun harus berupa institusi atau lembaga tertentu .
  2. Menggunakan manajemen yang Islami . untuk mengatur dan mengeloal proses kerja dalam rangka pencapain tujuan yang di hrapakan , tiada lain di gunakan manajemen yang sehat dan teraarah pada pencapain tujuan dakwahnya tadi . karena tujuan utama dakwah islamiyah itu terwujudnya masyarakat islami , maka jelas manajemenya pun harus bersifat islami , dalam arti sesuai dengan akidah syariah yang di ajarkan Allah melaui al-qur’an.
Sejarah jurnalistik mencatat bahwa istilah pers berasal dari press, suatu istilah yang di ambil dari proses percetakan yang di temukan oleh john Gutenberg ( 1400 – 1468 ) dari jerman. Atas dasar peristiwa tersebut maka pada saat itu semua barang cetakan , terutam surat kabar di sehut press atau kita kita kenal dengan sebuta pers .
PERENCANAAN MANAJEMEN PERS DAKWAH
Setiap organisasi atau lembaga tertentu dapat di pastikan mememiliki satu atau bebrapa tujuan yang menunjukan arah dan menyatukan gerak sarana yang terdapat dalam lembaga tersebut.Tujuan yang akan di capainya adalah keadaan masa yang akan datang ang lebih baik  ketimbang keadaan sebelumnya . adapun proses pencapaain tujuannya itu memerlukan suatu prosses manajemen yang sehat dalam arti terarah. Efektif dan efesien tepat sasaran.terarah di sini dimaksud dengan akitvitas yang telah di lakukan terpusat pada tercapainya tujuan yang telah di tentukan , yaitu melakukan kegiatan – kegiatan rasional yang tepat guna untuk menghasilkan hasil akhir yang telah diterapkan sebelumnya . sedangkan efektif dan efesien di maksudkan adanya penggunaan sarana yang terbatas pada hal – hal yang di perlukan . karena itu pula organisasi atau lembaga suatu manajemen diartikan sebagai wadah srana manajemen yang di perlukan dan sebgai alat pencapaian tujuan.
Sebagai wadah sarana manajemen yang di perlukan , organisasi merupakan tempat di mana tersedia sumber daya manusia dan sumber daya lainnya yang oleh sukarno di sebut The Six M’s Management atau di singkat menjadi 6M, yaitu :
  1. Men ( manusia ) , berupa tenaga kerja manusia yang melakukan usaha pencapain tujuan manajemen yang telah di tetapkan sebelumnya.
  2. Money ( uang ) yang di perlukan untuk membiayai segala upaya pencapain tujuan yang telah di tentukan tersebut , termasuk biaya pengadaan sarana manajemennya.
  3. Materials ( bahan – bahan ) , berupa barang – barang atau bahan baku yang di perlukan dalam rangka mewujudkan tujuan yang telah di tentukan itu.
  4. Machines ( mesin – mesin ) , berupa segala peralatan mekanis yang di perlukan dalam kegiatan usaha pencapain tujuan yang di maksud .
  5. Methods ( metode atau usaha kerja ) , berupa cara atau sistem kerja yang tepat guna dalam pelaksanaaan pencapaian tjujuan yang telah ditetapkan tersebut.
  6. Market ( pasar), yaitu tempat atau sasaran yang di tutju dalam upaya pencapaian yang telah di tetapkan itu . dalam hal kegiatan MPD sudah tentu punya pasarnya yang di jadikan sasaran adalah khlayak atau mansyarakjat umum di manapun berada .l
George R terry mengemukakan fungsi – fungsi manajemen dengan rumus berakronom POAC sebagai singkatan dari Planning,Organizing,actuating dan Controlling .
Apabila kita kaji mendalam tentang  keterangan di atas mempunyai pengertian yang sama tentang kegiatan atau funsi manajmen yang terlibat dalam proses manajemen itu, yakni :
  1. Perencanaan , yaitu pemikiran – pemikiran rasioanal berdasarkan fakta yang mendekati dan mendalam sebagai persiapan untuk tindakan – tindakan kemudian .
  2. Pengorganisasian , yaitu penyusunan struktur organisasi ( ikatan yang di tandai dengan adanya hirarki , posisi , fungsi dan normal ) dan pembagiaan tugas pekerjaan serta penempatan orang berikut jabatannya di dalam struktur organisasi itu.
  3. Penggerakan , yaitu kegiatan – kegiatan yang bisa menggerakan semua sarana yang di perlukan dalam pelaksaaan kerja untuk mencapai tujuan yang telah di tentukan , terutama untuk menciptakan kemampuan dan kemauaan para pelaksananya.
  4. Pengendalian atau pengawasan , yaitu kegiatan untuk mengetahui apakah pelaksanaan kerja telah sesuai dengan rencana semula atau tidak , serta untuk menjaga agar tidak terjadi penyimpangan – penyimpangan dari pelaksanaan yang telah di rencanakan nya. Apabila terjadi penyimpangan atau kesalahan , maka segera di adakan tindakan perbaikan atau pencegahan.
PENGGERAKAN PERS DAKWAH
Fungsi ketiga dari manajemen pada umumnya adalah penggerakan actuating.
maksudnya adalah menggerakan semua sarana manajemen agar fungsi – fungsi maajemennya bisa terlaksana dalam upaya pencapaian tujuan yang telah di tentukannya. Saran penggerakan yang utama sekali adala sumber daya manusianya. Dalam hal ini semua tenaga kerja yang tersaring atau pun yang telah di tetapkan menjadi pegawai di gerakan atau di bina agar mau serta mampu bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah di tentukan , dalam arti menudahakan agar atas keamuan dan kesadaran dirinya para pegawai ( karyawan) melaksanakn tugasnya dengan penuh semngat bekerjasam dan bertanggung jawab . adapun cara yang bisa di lakukan untuk itu adalah berbentuk pembinaan dan kepemimpinan. Pembinaan dalam hal semngat dan kreatif untuk mengembangkan karirnya di bidang tugas kerjanyasedangkan kepemimpina merupakan sistem penggerakan yang harus di anut oleh para pejabat di dalam organisasi atau lembaganya.
PEMBINAAN SUMBER DAYA MANUSIA 
Manusia di lahirkan ( diciptakan Allah swt) dengan sempurna dan mulia berserta berbagai kelebihan di bandingkan dengan mahkluk lain. Selain dari itu manusia “ di modali “ daya kehidupan berupa khalq ( sifat fisiq) . khiluq ( tabiat) , rizki ( harta, ilmu dan sarana hidup ) serta di lengkapi pula dengan hidayah yang berupa :
  1. Hidayah ilhami ( fitri , gharizah , insting atau naluri ) yaitu gerak hati yang terdapat dalam bakat manusia maupun binatang dalam bentuk dorongan untuk melakukan sesuatu tindakan tanpa berdasarkan pemikiran sempurna.
  2. Hidayah al hawasi ( indera ) , yaitu organ tubuh yang peka terhadap rangsangan dari luar, seperti penglihatan pendengaran , penciuman ,rasa dan peradaban .
  3. Hidayah akal , yaitu akal yang hanya di berikan kepada manusia , yakni berupa hati untuk bisa membedakan antara yang benar dan yang salah .
  4. Hidayah din , yaitu kemampuan manusia untuk bisa memahami kebenaran wahyu, serta dapat memahami  keesaan dan kekuasaan Allah SWT dan kebenaran risalah yang di bawa para rasul , sehingga mampu mengikuti kebenaran risalah yang di bawa para rasul .
  5. Hidayah taufiq ( ma’unah ) , yaitu hidayah yang di berikan atas pregoratif Allah SWT dalam membimbing hambanya untuk mengimani tauhid . Allah menganugrahkannya kepada siapa yang di kehendakinya.
Dengan demikian sasaran utama dari pembinaanya tiada lain meliputi pengetahwan , keterampilan , dan kemampuan wartawan dan karyawan dalam menghadapi setiap masalah pada bidang tugasnya . dalam hal ini dapat di jabarkan menjadi bidang – bidang pembinaan sebagai berikut :
  1. Pembinaan kemampuan ( skill ) , dimana pembinaan di titikberatkan pada aspek kemampuan wartawan dan karyawan dalam bidang tugasnya masing – masing sampai menjadi wartwan profesional di bidang jurnalistik dan karyawan profesional di bidang administrasi , dalam upaya mewujudkan tujuan dakwah yang telah ditetapkan sebelumnya.
  2. Pembinaan dalam membangun kerjasama antar wartawan maupun karyawab , dalam arti bergotong royong gun amemajukan kenierja perusahaan .
  3. Pembinaan di bidang kepemimpinan.
  4. Pembinaan manejemen , dimana oara wartwan dan karyawan di bimbing agar mampu membina kerjanya sehari – hari.
  5. Pembinaan dalam hal berkomunikasi.
  6. Pembinaan dalam teknis operasional.
  7. Pembinaan mental, (emosi) dengan mendidik para wartawan dan karyawan agar mampu mengendalikan emosi dan senantiasa memiliki semngat kerja , sifat gotong royong , saling tolong menolong , dan sebagainya guna mencipatakan keselarasan kerja tim dalam mencapai tujuan dakwah sebagaio usaha lembaga atau organisaisi yang telah di tetapkan.
Untuk memperoleh hasil kerja yang efektif dan efisien, semua komponen yang terlibat dalam proses kerja harus diberi standar ( ukuran ) yang menetapkan identitas tertentu, sehingga proses manajemennya menunjukkan ciri khas tersendiri. Adapun standar yang bisa digunakan untuk mengukur semua hasil kerja para pelaksana itu tiada lain adalah suatu ukuran yang terdiri atas sejumlah identitas dan berfungsi sebagai persyaratan adanya :
1. Keseragaman, baik model, tipe, bentuk, maupun ciri-cirinya.
2. Jaminan mutu akan produk yang dihasilkan selalu terbaik.
3. Bisa memberikan kepuasan kepada para pelaksana kerja atas adanya kunjungan atau penyaksian yang dilakukan oleh pimpinannya langsung serta adanya kesempatan untuk berkomunikasi langsung dengan pimpinannya itu.
4. Bisa menimbulkan perasaan bangga di kalangan para pelaksana kerja dimana ada kesempatan itu mereka bisa menyampaikan buah pikiran serta keluhannya langsung kepada pimpinannya, sehingga mereka dapat merasakan adanya perhatian dari pimpinannya.
Namun demikian cara ini bisa menyita waktu yang tidak sedikit, serta bisa menimbulkan perasangka yang dapat mengacaukan suasana kerja, terutama bila pemimpin kurang bijaksana dalam menanggapi segala persoalan yang dikemukakan pelaksana kerja itu.
2. oral report (laporan lisan). Cara ini bisa dilakukan dengan menyelenggarakan rapat kerja atau pertemuan antara para menajer dengan para pelaksana dimana masing-masing pelaksana melaporkan situasi dan kondisi yang dihadapi selama melaksanakan tugas pekerjaannya, atau pimpinan melakukan name calling pada bawahannya untuk mengadakan wawancara dari hati kehati untuk mendengarkan apa-apa yang dihadapi dan dialami para pelaksana kerjanya selama menjalankan tugas pencapaian tujuan yang diberikan kepada mereka.
3. Written report (laporan tertulis). Untuk memperjelas serta melengkapi laporan lisan, system pengawasan pun memerlukan adanya laporan tertulis. Dengan demikian swmua kegiatan yang terlibat dengan proses kerja untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan itu bisa disimpan dan dipelajari kembali apabila diperlukan. Semua laporan tertulis tersebut merupakan dokumen terpenting untuk dijadikan bahan-bahan kajian bagi pihak-pihak yang berkepentingan, seperti para pemeriksa atau para pejabat baru apabila terjadi pergantian pejabat. Laporan tertulis bisa dibuat dalam bentuk notulen rapat kerja, pertanggungjawaban pelaksanaan tugas, neraca keuangan, dan laporan tentang kasus tertentu. Biasanya laporan-laporan tersebut dibuat oleh para pimpinan unit kerja secara berkala (mingguan,bulanan, tiga bulanan, atau tahunan), kecuali apabila terjadi adanya kasus tertentu maka laporannya dibuat setelah penyelidikan kasus dimaksud usai.
4. Production control (pengawasan terhadap produk yang dihasilkan). Pengawasan dimaksud dilakukan dengan cara meneliti apakah produk yang dihasilkan itu sesuai dengan ketentuan-ketentuan atau standard yang telah ditetapkan dalam proses perencanaanya. Sudah tentu penelitiannya tidak terbatas pada bentuk atau mutu saja, melainkan juga menyangkut banyaknya serta ongkos-ongkos yang telah dikeluarkan.
5. Sales control (pengawasan terhadap penjualan ). Bagi usah jurnalistik, dalam tujuannya apapun pada dasarnya adalah melakukan penjualan produk jurnalistiknya. Demikian pula halnya dengan tujuan dakwah melalui kegiatannya jurnalistik. Dalam hal ini pengawasan dilakukan dengan mengadakan penelitian terhadap proses penjualan yang harus mendatangkan keuntungan yang diharapkan. Untuk itu penelitian di pusatkan pada :
a. Potensi penjualan ( Produk jurnalistiknya),
b. Kedudukan produk itu di dalam pasar,
c. Kualitas dan kuantitas aparat penjualannya,
d. Upaya para pesaing,
e. Hubungan antar cabang apabila ada perubahan permintaan pasar di daerah-daerah tertentu,
6. Cost control ( pengawasan terhadap pengeluaran uang). Pengawasan dimaksud diarahkan pada jumlah biaya yang di keluarkan untuk ongkos-ongkos produksi serta pelayanan selama menjalankan usaha manajemennya. Di dalamnya mencakup ongkos-ongkos unttuk keperluan :
a. Pengadaan bahan baku dan bahan-bahan terkait lainnya,
b. Kantor dan pegawai,
c. Upaya penjualan,
d. Administrasi langsung maupun tidak langsung.
Dalam hal ini penelitian dilakukan dengan mengadakan analisis serta studi kelayakan terhadap semua pengeluaran uang dalam seluruh kegiatan fungsi-fungsi manajemennya, sejak perencanaan (termasuk penelitian) sampai dengan biaya-biaya pengawasannya. Selain dari itu penelitian pun diarahkan pada upaya-upaya mencapai efisiensi, distribusi biaya rutin dan tetap, produksi dalam jumlah yang bersifat ekonomis dapat dijual, penetapan harga hual, dan penanggulangan pemborosan serta biaya – biaya yang mubazir.
7. Budgetary control (pengendalian budget). Pengawasan dimaksud bersifat mengendalikan anggaran biaya dan pendapatan yang telah ditetapkan pada proses perencanaan. Maksudnya, apabila terjadi ketidak cocokan antara biaya yang dikeluarkan secara riil dengan penaksiran (budget) yang ditetapkan pada rencananya, maka bisa dilakukan revisi sedemikian rupa sehingga penyimpangan yang terjadi bisa diluruskan kembali sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapinya. Dengan demikian pengawasan ini efektif untuk memberikan solusi guna menghindari keadaan yang tidak sehat dalam mengarahkan jalannya manajemen kejurusan yang diharapkan.
Dengan menggunakan ketujuh cara tersebut, pengawasan dapat meliput semua upaya yang dilakukan para pelaksana manajemen serta sarana yang digunakannya, dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkannya lebih dulu.Dari hasil pengawasan tersebut dapatlah ditarik kesimpulan dalam bentuk penilaian apakah manajemen itu berjalan secara efektif dan efisien atau tidak. Apabila terjadi kekurangan, maka penilaian dimaksud bisa dijadikan bahan untuk melakukan penelitian dan menetapkan solusi kearah perbaikannya. Demikian pula hal tersebut bisa dilakukan dalam Manajemen Pers Dakwah.
Menurut Sondang P. Siagia pengawasan sebagai proses pengamatan dari pelaksanaan seluruh kegiatan organisasi untuk menjamin agar semua pekerjaan yang telah ditentukan sebelumnya. Apabila pengawasan ini dikaitkan dengan dakwah maka penyelenggaraan dakwah dapat dikatakan berjalan dengan efekif dan efisien bilamana tugas-tugas dakwah yang telah diserahkan kepada para pelaksananya benar-benar dilaksanakan sesuai dengan rencana dan ketentuan yang telah ditetapkan.
Untuk dapat mengetahui apakah tugas-tugas dakwah itu dilaksanakan oleh para pelaksana, bagaimana tugas itu dilaksanakan, sudah sampai sejauh mana pelaksanaannya, apakah tidak terjadi penyimpangan, maka pimpinan organisasi dakwah perlu melakukan pengawasan, penilaian, dan pengendalian. Dengan cara demikian, pimpinan dapat mengambil tindakan pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya penyimpangan. Dan apabila penyimpangan telah terjadi, maka pimpinan segera mengambil langkah pengendalian dan perbaikan untuk menjaga agar tidak terjadi penyimpangan yang terlalu parah yang dapat merusak sistem yang telah dibuat.
Pengendalian dan penilaian, di samping ditujukan pada pelaksanaan tugas-tugas dakwah yang sedang berjalan, juga ditujukan kepada proses yang sudah selesai. Apabila pengendalian dan penilaian macam pertama dimaksudkan untuk pencegahan terhadap kemungkinan-kemungkinan terjadinya penyimpangan, maka pengendalian dan penilaian macam kedua dimaskudkan sebagai peningkatan dan penyempurnaan terhadap proses dakwah untuk masa-masa yang akan datang.
Pada akhirnya pengawasan, pengendalian, dan penilaian terhadap pelaksanaan dakwah harus ditujukan kepada semua fungsi manajemen lainnya, sebab ia merupakan unsur-unsur yang saling kait mengait. Dengan kata lain, controling harus bisa menjawab mengapa rencana yang telah ditetapkan tidak dapat terlaksana, mengapa organisasi yang telah disusun tidak dapat menjamin mencapai tujuan, serta mengapa fungsi penggerakan tidak dapat menggerakkan pelaksana sehingga tidak dapat melakukan tugasnya secara baik.

DiPosting Oleh : Beny Setiawan ~ Pakbendot.com

Artikel Manajemen Pers Dalam Dakwah ini diposting oleh Beny Setiawan pada hari Kamis, 05 Juli 2012. Terimakasih atas kunjungan Anda, serta kesediaan Anda membaca artikel ini. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.Wassalam..

:: HOME::

Share this article :
Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Komentar dengan Baik Dan benar