Home » » Mitos Mengenai Antariksa

Mitos Mengenai Antariksa

Ditulis Oleh Beny Setiawan pada Rabu, 21 Maret 2012

Pengetahuan kita tentang antariksa sama halnya dengan pengetahuan kita tentang sejarah – sulit membedakan apa yang kita tahu dari penelitian dan apa yang kita tahu dari film. Dalam kedua kasus, ini artinya banyak pengetahuan sehari-hari kita tentang antariksa salah.

Sabuk Asteroid Mematikan
Ingat bagaimana dalam The Empire Strikes Back Han Solo bernavigasi di medan asteroid kacau untuk menyerang Empire? Asteroid-asteroid tersebut begitu padat sehingga pesawat sekalipun harus hati-hati terbang di antaranya jika tidak ingin terhantam asteroid. Dan medan asteroid itu ada di mana-mana – dalam   Attack of the Clones, Obi-Wan menemukan hal yang sama.
Seperti itukah sabuk asteroid kita? Ada jutaan batu pembunuh yang berdempetan rapat dan mempersulit pesawat lewat?
Memang ada banyak asteroid dalam sabuk asteroid. Ada sekitar setengah juta yang sudah diketahui. Walau begitu, ada juga jarak yang sangat besar. NASA mengatakan kalau kemungkinan bertabrakan dengan asteroid adalah satu dalam sejuta! Sangat kecil kemungkinan pesawat melewati sabuk asteroid akan menabrak asteroid secara acak.

Asteroid, sendirian di antariksa
Sebenarnya, satu asteroid membutuhkan ruangan sekitar 400 ribu mil persegi hanya untuk dirinya sendiri. Itu sangat luas.
Gambaran sabuk asteroid yang super padat tidak mungkin karena masalahnya adalah hukum tumbukan di ruang bebas gravitasi. Jika mereka bertabrakan, keduanya akan terlontar bebas ke luar angkasa dan dengan sendirinya membentuk jarak aman sesamanya.
 Ini artinya tertabrak asteroid di sabuk asteroid bukan masalah tidak memperhatikan. Untuk menabrak asteroid, anda harus mencari asteroid dan dengan suatu cara memotong dalam waktu yang tepat, kecepatan tepat, dan arah yang tepat pada jalur orbitnya.
Lubang Hitam adalah Penyedot Debu Kosmik
Dari segala benda aneh di luar angkasa, lubang hitam mungkin bukti terbaik kalau alam semesta berbahaya. Ia tak terlihat, besar, dan memakan apa saja selama berjuta tahun dan mengubah ruang angkasa menjadi kosong melompong.
Karena kecenderungan memakan apa saja ini, lubang hitam sering terlihat di film sains fiksi. Dari film   Star Trek hingga Stargate SG-1 dan Doctor Who, lubang hitam ditunjukkan sebagai pusaran penghancuran yang tidak dapat dihindari, memakan alam semesta.
Sekarang bayangkan kalau anda bangun besok dan mengetahui kalau seseorang telah mengganti matahari dengan lubang hitam. Apa yang terjadi? Tidak terjadi apa-apa kecuali kita mati kedinginan karena tidak ada matahari. Namun kita tidak akan tersedot ke dalam lubang hitam tersebut.
Sebesar apapun lubang hitam, ia tetap punya massa. Karena ia memiliki massa yang terbatas, maka kekuatannyapun terbatas. Dengan kata lain, lubang hitam sama seperti benda lain di alam semesta, tarikan gravitasinya hanya sekuat massa yang ia miliki. Jika massanya sebesar matahari, maka tarikannya juga sama sebesar matahari. Tidak kurang, tidak lebih. Fisika adalah sesuatu yang harus dipatuhi juga oleh lubang hitam. Tidak ada mekanisme khusus yang membuatnya menyedot melebihi gravitasinya dan gravitasi juga mengikuti hukum yang sama dalam fisika.
Matahari Itu Kuning
Anak-anak di TK dan SD belajar kalau matahari itu berwarna kuning. Bahkan astronom menggolongkan matahari dalam kelas bintang cebol kuning.
Nyatanya, matahari tidaklah kuning atau bahkan termakan oleh api raksasa. Warna matahari sesungguhnya adalah putih, sama seperti yang dikatakan Newton dalam percobaannya mengenai pelangi.
Alasan matahari terlihat kuning karena ketika menembus atmosfer Bumi, sinarnya terlihat kekuningan. Walau begitu, suhu Matahari adalah 6 ribu Kelvin, dan setiap benda pada suhu demikian tinggi hanya punya satu warna: putih.

Warna Matahari Sesungguhnya
Dan putihnya pun bukan putih yang bagus, ia putih pucat. Di lihat dari luar angkasa, matahari mirip dengan bulan, hanya saja tanpa kawah-kawah di permukaannya.
Begitu pula ketika anda melihat potret-potret Hubble. Potret tersebut berwarna sangat indah, namun pada kenyataannya tidak berwarna. Ini karena potografi luar bumi itu sulit dan gambar yang dihasilkan belum tentu member banyak informasi ketika hanya dipotret begitu saja. Para ilmuan melibatkan proses untuk mengkombinasikan warna sehingga membantu ilmuan mengenali daerah-daerah dan kandungan-kandungannya. Seperti yang dikatakan Zolt Levay dari Lembaga Sains Teleskop Ruang Angkasa:
“Warna dalam gambar Hubble bukanlah warna benar atau salah, namun biasanya mewakili proses fisik yang berada di balik subjek gambar. Itu adalah cara untu menghadirkan sebanyak mungkin informasi dalam satu gambar.”
 Jadi, pada dasarnya, semua gambar mengagumkan dalam penelitian astronomi sebenarnya tak lain gambar hitam putih yang diwarnai untuk memperlihatkan berapa banyak sains dalam gambar tersebut.
Sekarang, apakah Mars berwarna merah? Mars mendapatkan kurang dari separuh sinar matahari yang didapatkan bumi, dan cahaya itu masih harus menembus atmosfer yang penuh debu dari partikel oksida besi (karat). Jadi apakah warnanya merah? Tidak ada jawaban yang sederhana.

Tiga potret Permukaan Mars
Meteorit itu Panas
Katakanlah sebuah meteorit mendarat di halaman belakang anda sekarang. Lalu anda melihat benda itu dalam sebuah kawah kecil. Beranikah anda menyentuhnya? Tidak berani, sampai ia mendingin. Ia kan terbakar di langit jadi tentunya panas.
Di film memang demikian, namun pada kenyataannya, meteor tidaklah panas. Batu itu berada di antariksa dalam suhu sekitar 3 derajat di atas nol mutlak selama miliaran tahun. Ketika masuk ke atmosfer, hanya ada  beberapa menit waktu ia menembusnya karena kecepatannya yang sangat tinggi. Ini artinya, tidak peduli apa yang terlihat di film Armageddon, meteor tidak punya waktu untuk menjadi api dan meledak di langit sebelum tumbukan.
Lalu bagaimana dengan berkas meteor yang lewat di langit di waktu malam, itu jelas terbakar.
Faktanya, bola api sebenarnya tidak ada hubungannya dengan fisik meteor tersebut. Cahaya yang kita lihat ada di depan benda yang ditekan dengan kecepatan sangat tinggi oleh tekanan hantam. Pada dasarnya, meteor memiliki lapisan udara di depannya, melewati gelombang kejut yang ia buat saat turun. Lapisan udara inilah yang terpanaskan hingga terbakar.
Fenomena ini memang memanaskan lapisan terluar meteor namun karena ia selalu tertiup pada saat tumbukan, itu tidak berarti. Jadi jika anda menemukan meteor jatuh, silakan ambil saja.
Orang Meledak di Luar Angkasa
Di satu sisi, manusia, mahluk lembab kecil terbuat dari kehangatan, dan berbagai tekanan internal. Di sisi lain, antariksa yang hampa. Lingkungan kejam yang tidak mengandung apa-apa kecuali kegelapan dan kedinginan.
Kita sering melihatnya dalam banyak film. Jika anda keluar sana tanpa baju astronot, antariksa akan membuat anda meledak. Tekanan di dalam tubuh anda dibandingkan tekanan di luar tubuh anda akan membuat anda meletus dalam sekejab. Ini membuat mata hampir keluar dalam film Total Recall.
Sebagian besar orang dengan benar mengira kalau jika tekanan di luar sebuah benda lebih besar dari tekanan di dalam benda tersebut, benda tersebut akan meledak seperti balon di atmosfer atas. Jadi, bila anda membawa manusia keluar tekanan atmosfer kita, dalam beberapa detik, ia akan meletus.
Faktanya, seperti ditunjukkan film 2001: A Space Odyssey, seorang astronot dapat selamat berjalan di antariksa tanpa menggunakan helm. Tetapi ini memang sulit, anda tetap tidak bisa bernapas, tapi setidaknya kepala anda tidak meledak.
Untungnya, manusia punya banyak hal yang tidak dimiliki balon. Yang utama adalah kulit dan sistem peredaran darah. Kulit bertugas mewadahi dan melindungi tubuh kita sehingga ia dapat menegasi dampak dekompresi. Sementara itu, sistem peredaran darah berfungsi mengadaptasi dengan lingkungan baru sehingga ia menjaga darah tetap baik ketimbang mendidih. Bahkan membeku bukanlah isu segera walaupun lingkungannya dingin, Karen tidak banyak materi di luar angkasa untuk menyerap panas tubuh anda.
Faktanya, bahaya utama tidak memakai baju astronot adalah hal-hal yang berkaitan dengan oksigen: pernapasan, dan juga menahan napas di paru-paru yang bisa berakibat trauma paru bengkak yang dialami penyelam ketika naik ke permukaan terlalu cepat.
Ada Sisi Gelap Permanen di Bulan
Ini astronomi dasar, bulan punya sisi gelap yang menangkap lebih sedikit sinar matahari daripada kegelapan malam. Ia dingin dan gelap, abadi selamanya. Akibatnya, sisi gelap bulan menjadi lokasi mitos, misteri, dan rasa takut kebudayaan popular.
Faktanya, tidak ada yang namanya sisi gelap bulan, sama halnya tidak ada yang namanya sisi gelap bumi. Benar memang kalau bulan hanya menampakkan satu sisi wajahnya ke bumi. Sebenarnya, sisi ini mendapatkan jumlah cahaya yang sama, hanya saja pada waktu yang berbeda (malam).
Yang ada adalah sisi jauh bulan, karena separuh bagian dari bulan memang membelakangi kita. Namun itu tidak berarti sisi tersebut ada dalam kegelapan abadi.

SUMBER

DiPosting Oleh : Beny Setiawan ~ Pakbendot.com

Artikel Mitos Mengenai Antariksa ini diposting oleh Beny Setiawan pada hari Rabu, 21 Maret 2012. Terimakasih atas kunjungan Anda, serta kesediaan Anda membaca artikel ini. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.Wassalam..

:: HOME::

Share this article :
Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Komentar dengan Baik Dan benar