Latest Post

Senjata Buatan Indonesia Yang Mampu Menembus Tank Baja

Ditulis Oleh pakbendot.com pada Kamis, 12 Juli 2012




SPR 2 (SENJATA PENEMBAK JITU PRODUKSI DALAM NEGERI)

SOSOK senapan penembak jitu antimaterial, menjadi salah satu keperluan utama pada pertempuran era modern, terutama untuk menghajar pasukan musuh yang berlindung di balik material. Menyadari perkembangan ini, PT Pindad pun tak mau ketinggalan, mereka sudah memproduksi dengan nama Senapan Penembak Runduk-2 (SPR-2).


SPR-2 diharapkan mampu menjadi salah satu produk senjata unggulan dalam negeri 2007, yang kehadirannya dapat menjadi varian produk impor sejenis asal Yugoslavia, Black Arrow M93. Kedua senapan antimaterial ini sama-sama menggunakan peluru kaliber 12,7 mm x 99 (umum pula disebut kaliber .50) dengan isian magasen lima peluru.

Kehadiran SPR-2, membuat produk serupa yang sudah muncul dan dipergunakan berbagai angkatan bersenjata di dunia, menjadi sedikitnya 25 jenis. Sebelumnya, sudah ada produk sejenis, misalnya Gepard M1/M2 (Hongaria, kaliber .50), Barret M82, M90 dan M95, M99, serta M-107 (Amerika, kal .50), SVN-98 (Rusia, kaliber 12,7 mm x 108), Steyr IWS-2000 (Austria, kal .50 dan 12,7 mm x 108), PGR UM-Hecate (Prancis, kal .50), AI AS (Inggris, kal .50), NTW-20 (Afrika Selatan, kal 20 mm), dll.

Menurut Desain Ghrapic Divisi Senjata PT Pindad, Dede Tasiri, senada engineer Nana Mulyana, diharapkan dapat memberikan efisiensi bagi TNI jika dibandingkan produk impor. Dari hitungan, produksi SPR-2 harga lebih murah dan fungsi sama hebatnya, apalagi jika dibandingkan Black Arrow M93 yang harganya di atas Rp 1 miliar per pucuk dan diketahui banyak yang sudah rusak.


Senjata sniper buatan pindad ini dibuat dalam 3 versi yaitu SPR1, SPR2, dan SPR3.

SPR 1 ini mempunyai peluru kaliber 7,62mm dengan jarak akurasi 900 meter , Kendati terilhami produk-produk senapan antimaterial yang sudah ada, namun menurut Dede, kehadiran SPR-2 cenderung desain sendiri dari PT Pindad. Walaupun pada sebagian sosok, masih mengambil desain dari Black Arrow M93 dan NTW-20 (Afrika Selatan).

"SPR-2 pada jarak tembak efektif mampu menembus lapisan baja dengan ketebalan sampai 2 cm pada jarak 500 meter. Pengoperasian dengan sistem bolt action bukan berarti SPR-2 kalah modern, namun diharapkan memiliki kelebihan karena akurasi biasanya lebih jitu," sedangkan SPR3 mampu menembus baja setebal 3 cm dengan jarak 700 meter.

Senjata mahal

Penggunaan senapan penembak jitu antimaterial, sudah digunakan sejak Perang Dunia II (1939-1945) oleh pasukan Nazi Jerman (Mauser Tank-Gewehr Model 1918, kaliber .51), Jepang (Tipe 97, kaliber 20 mm), dan Inggris (Boys Antitank Rifle, kaliber .55). Ketiga pasukan tersebut menggunakannya untuk menghantam masing-masing musuhnya, yang berlindung di balik tembok atau berada dalam kendaraan lapis baja.

Usai perang, berbagai negara terutama Amerika, Inggris, Prancis, dan negara-negara Eropa Timur kemudian mengembangkan dengan menggunakan peluru kaliber .50 (disebut pula 12,7 mm x 99) dan kaliber 12,7 mm x 108, yang menjadi standar senapan mesin berat mereka. Dari berbagai negara yang ikut memproduksi senapan antimaterial, Jerman, Amerika, dan Rusia, yang paling banyak membuat aneka produknya sejenis.

Senapan penembak jitu antimaterial, di pasaran harganya rata-rata sangat mahal, sehingga negara-negara pembeli dan dari non- produsen yang keuangannya cekak, biasanya terbatas memiliki.

Sumber :the-junker.blogspot.com

Ini Dia Rahasia Kemenangan Pasangan Jokowi-Ahok

Ini Dia Rahasia Kemenangan Pasangan Jokowi-Ahok - Kemenangan pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama dalam Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta, Rabu kemarin, 11 Juli 2012, memutarbalikkan prediksi semua lembaga survei. Sebelumnya, empat lembaga survei--Indo Barometer, Sugeng Sarjadi School of Government, Lingkaran Survei Indonesia, serta Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis)--menyatakan pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli bakal menang mudah. Kubu ini bahkan sesumbar bakal menang pemilihan dalam satu putaran saja.
Nyatanya, semua hasil hitung cepat (quick count) yang dirilis Rabu, 11 Juli 2012, menunjukkan angka berbeda. Justru pasangan Jokowi-Ahok, yang diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), yang unggul sementara. Menurut hitung cepat Indo Barometer, misalnya, Jokowi-Basuki meraih 42,24 persen suara, jauh di atas Fauzi-Nachrowi yang hanya meraup 33,77 persen suara.

Pengamat kebijakan publik Universitas Indonesia, Andrinof A. Chaniago, yang juga menjadi konsultan politik untuk Jokowi, menilai kemenangan jagonya itu ditentukan pada sepekan terakhir menjelang hari pencoblosan. "Saya kira kampanye kubu Foke pada H-7 terlalu ofensif dan banyak melakukan serangan agresif, sehingga terkesan tidak etis dan kontraproduktif," katanya. Model kampanye macam itu, kata Andrinof, akhirnya menjadi senjata makan tuan.

Pada saat yang sama, Jokowi berhasil mencitrakan diri sebagai alternatif terbaik untuk menggantikan incumbent. "Sosok Jokowi dinilai lebih menjanjikan untuk membawa perubahan di Ibu Kota," kata sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo. Warga Jakarta terutama mengenal Jokowi berkat prestasinya yang menonjol sebagai Wali Kota Solo. "Jokowi dikenal dengan mobil Esemka, pembelaannya terhadap pedagang kaki lima dan melindungi pasar tradisional, bahkan pernah berantem dengan Gubernur Jawa Tengah karena menentang pembangunan mal," kata Imam lagi.

Penilaian itu dibenarkan oleh peneliti Lembaga Survei Indonesia, Burhanudin Muhtadi. Semua citra baik itu, kata dia, disokong pula oleh pemberitaan positif di media massa dan media sosial. "Jokowi itu memang media darling (kesayangan media)," katanya.

Selain itu, faktor penting lain yang tak kalah menentukan adalah kinerja mesin partai. Peneliti LSI lainnya, Saiful Mujani, melihat dukungan Partai Demokrat dalam kampanye Fauzi kurang maksimal. "Sementara mesin PDIP dan Gerindra solid di belakang Jokowi."

Sumber: Tempo.co